Membayangkan laki-laki beristri dua kehidupan keluarganya akan penuh konflik dan iri dengki, antara istri pertama dan kedua. Ustadz Ahmad Adi Andi, seorang ahli pengobatan akupunktur 'Sooji chim' dari Korea dan Cina ini, justru sebaliknya. Tampak harmonis dan mesra. Bahkan saat Andi menikah yang kedua kalinya dengan Nurul Maghfiroh (28), istri pertamanyalah, Sri Purwaningsih (34), yang memilihkan dan mengantarkannya. Bagaimana perasaannya setelah dimadu? Berikut ini pengakuan Sri kepada Sahid: Mengapa Anda mau dimadu? Saya mengkaji masalah poligami sejak lama, apa hakikatnya dan hikmah- hikmahnya. Ketika di Pakistan saya bergaul dengan orang-orang yang poligami. Dalam ajaran Islam, seseorang belum beriman kalau tidak mencintai saudaranya yang lain. Maka dari itu saya ingin membuktikan cinta dan menguji keimanan saya dengan cara poligami. Sebagai ibu dari banyak anak (7), tentunya saya semakin sibuk mengurusnya, belum lagi melayani pasien yang mau berobat. Kalau saya sakit, suami tidak ada yang ngurus. Jadi dengan poligami banyak masalah yang dapat diselesaikan. Bagaimana perasaan setelah dimadu, bahagiakah? Sangat bahagia. Kalau suami tidak bisa mengantar ke pasar atau ke salon, saya bisa pergi bersama-sama. Ketika ada masalah dengan suami, saya diskusikan dengan umi (panggilan kepada istri kedua). Jadi tidak bocor ke luar. Saya bisa ngrumpi lewat telepon atau datang langsung ke rumah. Dengan poligami, tidak ada pikiran yang negatif ketika suami terlambat pulang, atau tidak tentu pulangnya, karena suami tidak akan ke mana-mana, pasti ke umi, tidak mungkin `jajan' di luar. Jadi, saya bisa istirahat, hati bisa tenang dan banyak kesempatan untuk beribadah. Yang saya rasakan begitu bahagia dan begitu indahnya ajaran Islam. Bagaimana menyikapi tanggapan keluarga dan masyarakat yang cenderung negatif? Tingkatkan terus ibadah kita, di samping terus memberi penjelasan bahwa poligami itu positif. Poligami itu rahmat bagi wanita. Itu kan masalah duniawi. Insya Allah, Allah akan turun tangan. Himbauan saya kepada para wanita, supaya lebih mengkaji lagi tentang poligami yang positif, karena ada poligami yang negatif, yaitu poligami secara sembunyi-sembunyi. Yang sayang lagi ada wanita yang mengatakan di rumah ia suami saya, di luar silakan terserah dia, yang penting dia tidak kawin lagi. Cara berpikir ini salah. Lama-lama suaminya bawa penyakit AIDS. Menurut Anda, apakah suami Anda sudah bertindak adil? Saya kira suami sudah berusaha yang terbaik untuk istri dan anaknya. Saya tidak banyak menuntut terhadap suami. Begitu juga suami, tidak menuntut kepada istri, atau istri dengan istri. Satu sama lain saling pengertian. Jadi tidak ada masalah. Justru kami ingin memberikan yang terbaik untuk suami. Maunya kami tinggal serumah, tetapi suami tidak mengizinkan, karena sunah Rasul pun dipisah. Istri Rasulullah dulu ada yang cemburu. Pernahkah Anda merasakannya? Saya kira itu sangat manusiawi, barangkali itu juga termasuk ujian. Tetapi jangan selalu mengikuti hawa nafsu. Saya kira cemburu istri Rasulullah itu cemburu yang positif. Yang saya rasakan, kecemburuan itu tidak saling menjatuhkan. Bagaimana menjelaskan kepada anak-anak bahwa bapaknya punya istri lain? Saya tidak menjelaskan. Yang penting anak itu butuh contoh yang baik. Mereka melihat orang tuanya begitu mesra dan baik-baik saja. Ibunya tidak merasa gelisah ketika ayahnya bersanding dengan wanita lain. Insya Allah, dengan sikap hormat, santun dan tenang itu, anak-anak pun baik dan biasa saja. Saya perhatikan, sikap saya yang demikian itu melahirkan sikap anak yang hormat, dan bertutur kata yang baik. Jawaban-jawaban lebih banyak pada sikap, bukan perkataan. Bagaimana hubungan anak-anak dengan ibu yang lain? Baik. (Nurul Maghfiroh menjawab: Bahkan kalau ada masalah, anak-anak (dari istri pertama) sering mengungkapkan pada saya. Anak-anak tak segan menginap di rumah saya, dan kadang minta uang jajan. Dengan anak saya yang usianya baru satu setengah tahun mereka sangat menyayanginya) . Dalam al-Quran, batas yang disebutkan untuk poligami itu empat. Bagaimana kalau suami ingin menikah lagi? Saya dan umi pernah diskusi masalah ini. (Nurul Maghfiroh menjawab: Hasil diskusi kami memutuskan, calon istri ketiga harus seorang hafidz Qur'an, yang keempat harus dokter, untuk mengembangkan bidang kesehatan. Jadi kalau ada yang mau daftar silahkan he..he..he. Karena ini untuk meningkatkan keimanan kami). Sri Purwaningsih lahir di Manado tahun 1966. Asal orang tuanya campuran, Janda (Jawa-Sunda) . SMP di Tegal, SMA di Semarang. Pernah kuliah S1 di Pakistan, tapi tidak selesai. Ahli pengobatan holistik. Pernah aktif dakwah di dalam dan luar negeri. Mengenal Islam melalui training PII. Orang tua pernah menjabat Kepala Bea Cukai Kudus, Kediri , Surabaya , dan Palembang . Sedangkan Nurul Maghfirah lahir di Sulawesi tahun 1972. Pendidikan tamat SMKK di Sulawesi. Mendalami ilmu pengobatan tradisional. Orang tua, mantan Kapolres di Sulawesi Tenggara. Mengenal Islam ketika aktif di IRM. Ketemu dengan Sri Purwaningsih dalam acara pengajian. ------------ --------- --------- --------- --------- --------- Ustadz Ahmad Adi Andi: "Dia Memang Hebat" Apakah ada perasaan canggung ketika awal-awal berpoligami? Kami sama-sama saling mengerti. Begitu pernikahan selesai, saya pergi bulan madu ke luar kota selama satu minggu, istri pertama pula yang menentukan tempatnya. Ketika pulang ke rumah istri pertama, saya tanyakan pada istri apa yang terjadi dalam dirinya, istri menjawab, "Bukan main bergejolaknya hati untuk melawan hawa nafsu." Saya pikir itu manusiawi. Ternyata pergolakan jiwa itu menyebabkan ia tampil lebih hebat lagi. Saya lihat bahwa poligami yang ikhlas melahirkan cemburu yang positif. Sebaliknya, poligami yang tidak ikhlas melahirkan cemburu yang negatif. Jadi cemburu yang positif melahirkan persaingan yang positif. Tanpa disadari istri pertama sudah kemasukan cemburu yang positif. Dan terus terang, istri saya pertama saya lihat sekarang lebih muda, lebih sehat dan lebih kuat, setiap saya memandang selalu menyenangkan dan bergairah. Ini kenyataan, bukan cerita. Bagaimana contoh persaingan yang positif itu? Secara fitrah sifat wanita itu merayu, sebaliknya, laki-laki itu harus dirayu. Maka ketika merayu itu, istri harus berpenampilan menarik. Dari persaingan yang positif itu saya melihat istri pertama mulai memakai lipstik lagi, minyak wangi, dan selalu rapi. Ketika saya pergi ke istri kedua, istri pertama mengirim hadiah sebagai pelengkap pertemuan saya dengan istri kedua. Begitu juga sebaliknya. Yang Anda rasakan apakah Anda sudah berbuat adil? Berbuat adil itu perintah al-Qur'an, jadi kita harus berusaha semaksimal mungkin. Kalau kita sudah melaksanakan apa yang menjadi hak dan kewajiban, maka tidak ada tuntutan yang macam-macam. Keadilan itu bukan angka-angka sebagaimana dituntut oleh banyak orang, meskipun kita juga berusaha untuk memenuhi angka-angka itu. Dalam kehidupan kami, itu bukan hal yang prinsip. Istri tahu bahwa saya telah berusaha untuk memenuhinya. Kalaupun kurang maksimal, istri tidak lantas berburuk sangka. Istri saya bukanlah sosok manusia- manusia yang suka menuntut, tapi manusia yang selalu berhikmah. Yang dipikirkan kedua istri saya itu bagaimana ia memuliakan suami, memberikan yang terbaik untuk suami. Bagaimana cara Anda mengharmoniskan hubungan istri pertama dan kedua, juga dengan anak-anak? Sering saya ajak kedua istri dalam suatu acara. Suatu saat saya ajak kedua istri ke pesta pernikahan, ada seorang ibu yang kenal saya, ia bilang, pakai ilmu apa tuh bisa sampai begitu. Saya jawab, pakai ilmu al-Qur'an dan sunnah Nabi. Ha..ha...ha. Kadang saya ajak istri berbelanja ke pasar, melaksanakan shalat berjamaah. Saya juga pergi sama-sama rekreasi ke Puncak, Kebun Raya Bogor, atau Ancol. Mereka saling akrab dan merindukan. Adakah pengalaman Anda yang menarik dalam berpoligami? Ada . Ketika mengurus surat izin pernikahan, saya harus sidang di pengadilan agama karena pernikahan saya ini dianggap kasus. Menurut hakim, tidak ada alasan-alasan yang kuat yang membolehkan saya poligami. Sesuai ketentuan pengadilan agama, yang boleh poligami itu adalah mereka yang dengan alasan sakit, tidak bisa memberikan keturunan, dan tidak mampu melayani suami. Istri saya ditanya hakim, apa yang mendasarinya mau poligami. Istri saya jawab, karena syariat Islam. Karena jawaban istri tidak memenuhi persyaratan, hakim wanita itu menunda persidangan. Istri saya dipanggil ke ruangan lain, ternyata hakim menyatakan keharuannya atas jawaban istri saya tadi. Namun, hakim itu tetap minta kepada istri untuk menyebutkan satu alasan saja supaya sidang berjalan. Lalu, kepada hakim, istri saya mengatakan, "Kalau saya memberi salah satu alasan saja, maka itu berbohong. Kalau saya sebutkan alasan tidak punya keturunan, anak saya banyak. Kalau karena tidak mampu melayani suami, tanyakan saja pada suami saya. Kalau saya dibilang sakit, saya sehat, bahkan saya mengobati orang-orang yang sakit." Karena hakim terus memaksa, akhirnya setelah negosiasi, terpaksa istri memasukkan poin karena sibuk melayani pasien, jadi perlu ada yang membantu suami. Pengalaman lain, yaitu ketika saya nikah dengan istri yang kedua, istri pertamalah yang mengantar. Saya terharu dan kagum melihatnya. Ketika sampai di rumah calon istri kedua, tiba-tiba ibu-ibu dan akhwat yang hadir itu menangis terharu melihat ketegaran hati istri saya yang mendampingi suaminya untuk menikah lagi. Saya masuk ke ruangan tamu, dan istri saya pergi ke tempat rias pengantin untuk melihat kesiapan calon istri kedua saya. Sumber: Suara Hidayatullah : April 2000/Dzulhijjah- Muharram 1421 http://www.hidayatu llah.com/ 2000/04/jk_ prof.htm
Comment deleted at the request of the author.
 | memang kebanyakan orang kalau sudah mapan papan sandang dan semuanyadeh bisa di atur sepirti cerita di atas yg pertama dokter |
Comment deleted at the request of the author.
| |